Karena itu, kematian adalah keniscayaan. Tidak perlu berdebat soal kematian. Kita hanya perlu sadar bahwa kematian ditempatkan sebagai jalan purna kehidupan. Tidak ada satu makhluk hidup di bumi sanggup mengelak kematian.
Adrian Naur
Pada bagian akhir Filosofi Kopi karya Dee Lestari dikisahkan Rico de Coro. Rico de Coro adalah seekor lipas. Ia jatuh cinta dengan seorang manusia. Di tengah perjumpaannya itu, ia terkesima dengan paras manusia berjenis kelamin perempuan. Sarah, nama perempuan itu.
Sarah mempunyai rambut sebahu, sedikit ikal, kulitnya cerah, dan wangi. Dialah, menurut Rico de Coro, satu-satunya manusia paling baik di kolong bumi ini. Seperti manusia kebanyakan, jatuh cinta merupakan peristiwa alamiah. Ketika orang jatuh, yang dibutuhkan cinta untuk membopong.
Demikian alot cinta Rico de Coro. Rico de Coro jatuh cinta sekaligus terkesima terhadap sikap simpatik Sarah. Seluruh hari hidupnya dijejali oleh bayangan paras Sarah. Hingga nasib nahas menyambangi Rico de Coro. Dipicu sikap romansa, Rico de Coro memilih mati tragis ditimpuk sandal alih-alih menyelamatkan Sarah.
Dari kisah Rico de Coro ini, hemat saya, hidup selalu berkelindan dengan kematian. Sokrates meneguk racun karena berani menolak pilihan. Ia memilih mati secara tragis daripada takluk pada dewa-dewa yang diakui negara. Filosof tua itu merasa lebih baik mengiris nyawa sendiri ketimbang berangkat pikun pada umurnya yang mau lewat 70.
Mereka yang takut mati, demikian konon ia berujar, membayangkan dirinya mengetahui apa yang tidak diketahui siapa pun juga. Sejurus pernyataan Sokrates ini, filsuf Heidegger melihat kehidupan sebagai pilihan menuju kematian. Begitu seseorang manusia lahir ia sudah terlalu tua untuk mati.
Karena itu, kematian adalah keniscayaan. Tidak perlu berdebat soal kematian. Kita hanya perlu sadar bahwa kematian ditempatkan sebagai jalan purna kehidupan. Tidak ada satu makhluk hidup di bumi sanggup mengelak kematian.
Kita justru melihat kehidupan dan kematian ibarat dua sisi koin yang saling berhimpitan. Kita tentu tidak sekadar mempertanyakan ikhwal kehidupan. Kita juga sekaligus menyingkapkan perkara kematian. Antara kehidupan dan kematian, seperti tidak ada pemisah.
Namun yang tidak wajar, ketika kematian dipelintir demi mengamankan kekuasaan. Santer kasus kematian Brigadir Josua dan tragedi Kanjuhuran di beberapa waktu belakangan. Dalam dua kasus itu, umat manusia dipaksa tunduk pada kematian. Ironis memang. Hidup direnggang secara tidak manusiawi. Nyawa dijual murah di hadapan para penguasa.
Kisah ini, seperti cerita klasik abad pertengahan: membunuh adalah pilihan. Jika tidak dibunuh, maka kitalah yang terbunuh. Di hadapan penguasa kita menjadi lambat bergerak. Bahkan, bungkam di hadapan kekuasaan.
Lebih anehnya, jika tiba waktu dan giliran bicara keadilan semua lantang bersuara suara. Betapa tidak, sensitivitas kita begitu meletup ketika menyebut keadilan. Pertanyaan kita, mengapa keadilan seyogia dibela? Sebab muasab apa sehingga tidak sedikit orang melantangkan suara keadilan?
Karena semenjak zaman kolonialisme hingga detik ini, kita selalu berurusan dengan pemerintah yang tidak adil. Birokrasi yang tidak adil. Masyarakat yang tidak adil. Sistem yang tidak adil. Fakta ini diperparah lagi oleh hukum yang cenderung tumpul ke atas, tajam ke bawah.
Jelas bahwa ada semacam kelompok mayoritas menindas golongan minoritas. Hingga saat ini, perlakuan tidak adil menjadi catatan kelam pemerintah. Kita merasa ketidakadilan tampak karena hukum tidak berjalan berimbang. Di satu sisi, terkadang tidak menuai titik kejelasan. Di sisi lain, semakin didengungkan represif semakin kuat di akar rumput.
Ibarat dagelan, para elit adalah aktor di balik pementasan wayang. Seluruh panggung mereka kuasai dan hanya satu orang yang mengontrol aktivitas dagelan yakni, syah. Muncul kekawatiran kita dari adegan syah, adalah pemerintah hanya tampil sebagai penonton.
Tampil sebagai penonton, pemerintah ‘cuci tangan’ atas berbagi tindakan represif. Buktinya, sudah banyak aksi massa dipelintir kekuasaan. Mereka yang sering berorasi ditekan. Demonstran yang turun ke jalan digebuki. Masyarakat yang kerap bersuara ikut dibungkam. Mengkritik pemerintah pun sudah dikenai pasal.
Kita pun mengamini bahwa perlakuan ketidakadilan kian merebak. Hal ini karena sikap diam pemerintah. Kita berasumsi, persoalan ketidakadilan hanya menjadi isu kaum minoritas. Semestinya kaum elitis dan pemerintah menjadi garda depan memetus rantai ketidakdilan, tidak lagi bisa diandalkan.
Jika dibiarkan terus, letupan pertikaian vertikal dan horinsontal bisa meluas. Hal itu juga bisa berdampak pada kematian. Takutnya, seperti nasib Rico de Coro alih-alih memilih mati demi membela nasib dan harga diri manusia. Wajarkah pilihan kita seperti Rico de Coro?