Ernest Hemingway, raksasa sastra dunia berkebangsaan Amerika Serikat, pernah tinggal di negara Kuba selama dua dekade di sebuah perkebunan yang dia sebut Finca Vigia.
Negara itu seperti tanah air kedua bagi Hemingway. Di sana, dia pun mendapatkan inspirasi menulis novel The Old Man and The Sea, salah satu mahakarya dalam dunia sastra yang wajib dibaca hingga kini. Georgia Fuentes, seorang nelayan Kuba, juga disebut-sebut sebagai model untuk karakter tokoh Santiago dalam novel legendarisnya tersebut.
Dalam sebuah buku kecil terbitan Ecosystem berjudul Ernest Hemingway, lelaki kelahiran 21 Juli 1899 itu disebut meninggalkan Kuba pada tahun 1960, setahun setelah Fidel Castro dan rekan revolusionernya Ernesto Che Guevara menggulingkan pemerintahan diktator yang didukung Amerika Serikat, Fulgencio Batista.
Castro dan Hemingway hanya bertemu sekali pada Mei 1960 dalam sebuah kontes memancing. Banyak foto dalam pertemuan itu, tapi hanya formalitas belaka. Majalah Life menertibkan salah satu foto itu. Hemingway memberinya piala.
“Saya seorang pemula dalam memancing,” kata Castro. “Anda seorang pemula yang beruntung,” jawab Hemingway. Pertemuan itu tentu tak begitu istimewa. Tapi kini, perjumpaan keduanya adalah seonggok sejarah dari perjalanan hidup dua orang berpengaruh; Hemingway sebagai seorang sastrawan besar dunia dan Fidel Castro, tokoh revolusioner yang mendirikan sebuah negara komunis tak jauh dari ‘halaman rumah’ negara kapitalis tulen, Amerika Serikat.
Sejarah itu bersajak, seperti kata Mark Twain. Perjumpaan para legenda di atas panggung kehidupan yang sama seringkali terjadi. Ronaldo bertemu Lionel Messi di Spanyol, misalnya. Soekarno, Semaoen dan Kartosoewirjo yang pernah tinggal seatap di rumah HOS Tjokroaminoto. Dan masih banyak contoh lagi bila mau diurutkan.
Kembali ke soal Hemingway.
Gabriel Garcia Marquez, seorang novelis Kolombia pencetus aliran realisme magis, juga pernah berjumpa dengan Hemingway di Kota Paris, Perancis. Marquez yang masih berusia 28 tahun melihat penulis idolanya itu, sudah berusia 59 tahun, berjalan di sisi seberang jalan, mengenakan celana koboy, kemeja wol dan topi pemain bola.
“Saya merasa kebingungan di antara dua kehendak yang bersitegang. Saya tidak tahu apakah saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya untuk kepentingan wawancara atau menyeberangi jalan raya untuk menunjukkan rasa kagum saya kepadanya,” tulis Marquez dalam sebuah buku antologi berjudul, ‘Menulis Itu Indah: Pengalaman Para Penulis Dunia.’
Karena kesulitan berbicara Bahasa Inggris, Marquez pun, “mencungkupkan kedua tangan saya di dekat mulut dan, seperti Tarzan di hutan, berteriak ke seberang jalan: Maesstrooo!”
Ernest Hemingway yang sudah tampak kegemukan, sadar teriakan dari seberang jalan itu untuknya. Ia mengangkat tangannya dan berteriak ke arah Marquez dalam bahasa Castillia dengan suara yang sangat kekanak-kanakan, “Adiooos, amigo!”
Tentu saja Hemingway tak tahu siapa pemuda belia yang berteriak di tengah keramaian kota itu. Akan tetapi, kelak, novel realisme magis Marquez yang paling berpengaruh, One Hundred Years of Solitude (100 Tahun Kesunyian) bersanding di rak-rak buku para pecinta sastra dunia, sejajar dengan The Old Man and The Sea atau A Farewell to Arms-nya Hemingway.
“Begitulah saya pertama kali bertemu dengannya,” tulis Marquez, dengan sedikit rasa bangga karena kala itu, seperti George Orwell, hidup terkatung-katung di Paris.
Bertahun-tahun kemudian, Marquez yang juga bersahabat baik dengan Fidel Castro, masuk ke dalam mobil sang presiden Kuba. Castro, menurut kesaksian Marquez, adalah seorang pembaca sastra yang suntuk.
Marquez menulis, “saya melihat sebuah buku kecil tergeletak di kursi dekat jaket berwarna merah.”
“Ini mahaguru saya, Hemingway,” ujar Castro kepada Marquez di dalam mobil orang yang nyawanya paling diincar oleh agen-agen CIA waktu itu.
Dunia memang sempit, jika dilihat dari peta atau globe. Luas, jika lautan dan bentangan langit yang dipandang. Tapi, gerak sejarah seolah ditata dengan baik oleh semacam entitas yang Hegel sebut sebagai, ‘Ruh’
Jika memang demikian, maka yang paling penting diingat adalah, jangan sekalipun mengabaikan perjumpaan-perjumpaan remeh dengan siapa saja, entah di jalanan, di pasar, di warung remang-remang, tempat prostitusi atau di lorong-lorong pertokoan. Tak ada yang bisa menebak masa depan kita dan orang-orang yang kita jumpai. Hargai saja perjumpaan itu.
Mungkin, kita akan mengenang perjumpaan itu bersama, seperti Castro dan Marquez mengenang Hemingway.